Selama ini, pasta sisa sering dipandang sebelah mata. Banyak orang menganggap makanan yang baru dimasak selalu lebih sehat dibandingkan makanan yang disimpan semalaman. Namun, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya berlaku, khususnya untuk pasta.
Sejumlah ahli gizi dan penelitian terbaru justru mengungkap fakta menarik. Pasta yang sudah dimasak, didinginkan, lalu dikonsumsi kembali keesokan harinya, berpotensi memberikan manfaat tertentu bagi tubuh, terutama terkait kadar gula darah. Temuan ini membuat pasta mendapat sorotan baru dalam dunia nutrisi.
Mengapa Pasta Sisa Dianggap Lebih Baik?
Pasta dikenal sebagai sumber karbohidrat yang dapat meningkatkan kadar glukosa darah dengan cukup cepat. Namun, proses penyimpanan ternyata mengubah cara tubuh merespons pasta tersebut.
Peran Proses Pendinginan Pasta
Saat pasta dimasak, pati di dalamnya mengalami proses gelatinisasi. Kondisi ini membuat pati mudah dicerna dan cepat diubah menjadi glukosa.
Namun, ketika pasta dibiarkan dingin selama beberapa waktu, terutama disimpan di kulkas, struktur pati tersebut mengalami perubahan. Proses ini dikenal sebagai retrogradasi.
Apa Itu Pati Resisten?
Pati resisten adalah jenis pati yang tidak mudah dicerna oleh sistem pencernaan manusia. Inilah kunci utama mengapa pasta sisa dianggap lebih ramah bagi kadar gula darah.
Dampak Pati Resisten bagi Tubuh
Menurut ahli diet nabati Ashley Kitchens, sebagian pati dalam pasta yang telah didinginkan berubah menjadi pati resisten. Efeknya antara lain:
- Penyerapan glukosa ke darah menjadi lebih lambat
- Lonjakan gula darah cenderung lebih terkendali
- Memberi “makanan” bagi bakteri baik di usus
Dalam banyak hal, pati resisten bekerja menyerupai serat pangan yang bermanfaat bagi kesehatan pencernaan.
Pandangan Para Ahli dan Penelitian
Fenomena pasta sisa bukan sekadar tren media sosial. Beberapa pakar dan institusi kesehatan turut mengulas efeknya dari sudut pandang ilmiah.
Penjelasan dari Dunia Medis
Para ahli dari Ohio State University Wexner Medical Center menjelaskan bahwa retrogradasi menyebabkan sebagian pati membentuk struktur yang lebih sulit diurai oleh enzim pencernaan. Akibatnya, jumlah kalori yang benar-benar diserap tubuh menjadi lebih sedikit.
Sementara itu, penelitian dari Universitas Surrey di Inggris menunjukkan bahwa efek pasta sisa memang nyata, tetapi sangat bervariasi pada setiap individu.
Apakah Pasta Sisa Cocok untuk Semua Orang?
Meski terdengar menjanjikan, para ahli sepakat bahwa pasta sisa bukan solusi ajaib untuk semua masalah metabolik.
Catatan Penting untuk Penderita Diabetes
Bagi penderita diabetes atau mereka yang sedang mengontrol gula darah, pasta sisa bisa menjadi opsi yang lebih bijak. Namun, ahli gizi menegaskan bahwa efeknya tetap bergantung pada:
- Kondisi metabolisme masing-masing individu
- Jenis pasta yang dikonsumsi
- Cara pengolahan dan pemanasan ulang
Ahli Wright menegaskan bahwa pasta tetaplah sumber karbohidrat. Pendinginan hanya membantu menggeser respons glukosa, bukan menghilangkannya sepenuhnya.
Ukuran Porsi Tetap Menjadi Kunci
Manfaat pasta sisa dapat berkurang jika dikonsumsi dalam porsi berlebihan. Mengontrol jumlah makanan tetap menjadi faktor terpenting dalam menjaga kesehatan.
Tips Mengonsumsi Pasta Sisa dengan Aman
Agar manfaatnya lebih optimal, perhatikan beberapa hal berikut:
- Simpan pasta di kulkas maksimal 24–48 jam
- Panaskan kembali hingga benar-benar hangat
- Konsumsi dalam porsi wajar
- Padukan dengan sayur dan protein
Dengan cara ini, pasta bisa tetap aman dan mendukung pola makan seimbang.
Pasta sisa tidak selalu identik dengan kualitas rendah. Justru dalam kondisi tertentu, pasta yang telah didinginkan dan dipanaskan kembali bisa memberikan dampak metabolik yang lebih baik dibanding pasta segar.
Meski demikian, pasta sisa bukanlah solusi instan untuk menjaga gula darah. Pola makan seimbang, porsi yang tepat, dan gaya hidup sehat tetap menjadi fondasi utama.